//
archives

Politik

This tag is associated with 5 posts

Kenapa perbedaan idiologi diributkan?

Beberapa hari ini berita yang sering muncul di media cetak maupun televisi adalah mengenai koalisi partai politik. Berbagai pendapat dilontarkan oleh para pengamat politik terhadap arah koalisi partai politik yang cenderung pelangi (berbeda idiologi). Sebagai contoh adalah koalisi yang kemungkinan akan dibangun oleh partai Demokrat, PKS, PKB, PAN serta PBB dan PDS jika lolos PT. Koalisi ini terdiri dari partai yang beridiologi nasionalis (Demokrat), Islam (PKS, PKB, PAN an PBB) serta Kristen (PDS).

Para pengamat politik berpendapat bahwa koalisi tersebut tidak bisa bertahan lama karena disebabkan perbedaan idiologi yang sangat kontras, terutama sekali antara Demokrat (nasionalis), PKS (islam) dan PDS (kristen), dan koalisi itu terjadi karena hanya untuk mengejar kepentingan sesaat saja. Dan ada juga pengamat politik yang lebih keras lagi berkomentar bahwa bila terjadi koalisi pun tidak akan mungkin SBY memilih cawapres dari PKS karena akan mengakibatkan SBY sulit membuat kebijakan yang berhubungan dengan barat.

Continue reading

Advertisements

“Siap Menang Siap Kalah” atau “Siap Menang Siap-siap Kalau Kalah”

Mudah diucap tak mudah dilakukan. Setiap kali diadakan pemilihan kepala daerah baik walikota, bupati maupun gubernur biasanya melakukan ikrar bersama para kandidat dalam bentuk pernyataan “Siap Menang Siap Kalah” hmmm benar-benar ikrar yang menjanjikan.

Tapi pada kenyataannya hingga detik ini tak ada seorang pun dari kandidat yang kalah menepati janjinya tersebut. Inikah pemimpin yang akan kita pilih? wajar saja dikau kalah wahai kandidat. Kalah menang itu biasa kita harus terima apapun jua hasilnya.

Dimulut terucap “Siap Menang Siap Kalah” tapi hati berucap “Siap Menang Siap-siap Kalau Kalah”. Yang terpikirkan adalah kalau kalah nanti mesti melakukan penolakan terhadap keputusan KPU karena ada kecurangan disana-sini, si A money politik si B bisik-bisik dengan KPU dan sejuta tuntutan lainnya. Kalau KPU tak merespon pengerahan massa pun dilakukan dan anarkis pun terjadi, rakyat menderita dan kandidat pun suka cita.

Contohlah Amerika Serikat walaupun mayoritas bangsa di dunia tidak menyukai atas tindakan dan perilaku pemerintah AS, tapi ambillah apa yang baik dari mereka. Belum lama ini telah dilangsungkan pemilihan Presiden AS, dimana selama masa kampanye dilakukan debat dan juga disertai black campaign (menjelekkan/menjatuhkan kandidat lain), tapi pada akhirnya setelah keputusan pemenang didapat maka yang kalah dalam hal ini senator John McCain dengan sportif mengucapkan selamat kepada senator Barrack Obama.

Inilah yang rakyat harapkan, akhir dari pemilu yang happy ending, bukannya meninggalkan kerusuhan, kekacauan dan kekusutan lainnya¬†yang akan semakin menyengsarakan rakyat. Semua kecurangan dalam proses pemilu bisa diselesaikan kemudian, yang penting berjiwa besar untuk menerima kekalahan seperti ikrar yang terucap “Siap Menang Siap Kalah” dan bukannya “Siap Menang Siap-siap Kalau Kalah”

We Hope…

Itulah Politik Namanya…

Hari ini penulis mendapatkan sebuah alamat site dari seorang teman di Malaysia. Dia memberikan alamat site seorang ulama yang menjabat sebagai Mufti Kerajaan Negeri Perlis РMalaysia yang bernama Dr. Mohd Asri bin Zainul Abidin. Penulis coba bukan site tersebut dan melihat-lihat artikel yang ada, dan di site tersebut penulis membaca sebuah puisi yang penulis rasa sangat bagus. Mudah-mudahan puisi ini juga dibaca oleh politikus di negeri kita.

itulah_politik

Sumber : http://drmaza.com

Partai Investor

MPR-DPR RI tampak atas

MPR-DPR RI

Reformasi telah terjadi dan demokrasi pun mulai dijalankan setahap demi setahap. Setiap orang bebas membuat partai dengan bermacam ragam idiologi dan kepentingan. Banyaknya partai membuat suara rakyat pun terfragmentasi sehingga tidak ada partai yang benar-benar memenangkan pemilu secara mayoritas. Untuk berkuasapun diperlukan koalisi dengan beberapa partai yang dengan pamrih meminta bagian dalam pemerintahan. Amanah rakyat pun telah tergadaikan. Partai yang bergabung dengan koalisi pemerintah meminta keuntungan atau kue pemerintahan. Partai ini adalah partai investor.
Continue reading

Pejabat tak merakyat salah siapa?

suasana rapat kabinet

suasana rapat kabinet

Saat ini adalah hal biasa bila ingin bertemu dengan pemimpin pemerintahan sangat sulit. Apabila sang pemimpin/pejabat turun kelapangan untuk melihat rakyatnya pun juga sulit karena sang pemimpin harus menunggu hingga proses sterilisasi lapangan selesai. Sangat ironi sekali. Seakan ada sebuah jurang pemisah antara pemimpin dan rakyat, adanya ketidakpercayaan pemimpin terhadap rakyat, padahal yang memilih beliau adalah rakyat.

Continue reading

Archives