//
archives

Partai

This tag is associated with 2 posts

“Siap Menang Siap Kalah” atau “Siap Menang Siap-siap Kalau Kalah”

Mudah diucap tak mudah dilakukan. Setiap kali diadakan pemilihan kepala daerah baik walikota, bupati maupun gubernur biasanya melakukan ikrar bersama para kandidat dalam bentuk pernyataan “Siap Menang Siap Kalah” hmmm benar-benar ikrar yang menjanjikan.

Tapi pada kenyataannya hingga detik ini tak ada seorang pun dari kandidat yang kalah menepati janjinya tersebut. Inikah pemimpin yang akan kita pilih? wajar saja dikau kalah wahai kandidat. Kalah menang itu biasa kita harus terima apapun jua hasilnya.

Dimulut terucap “Siap Menang Siap Kalah” tapi hati berucap “Siap Menang Siap-siap Kalau Kalah”. Yang terpikirkan adalah kalau kalah nanti mesti melakukan penolakan terhadap keputusan KPU karena ada kecurangan disana-sini, si A money politik si B bisik-bisik dengan KPU dan sejuta tuntutan lainnya. Kalau KPU tak merespon pengerahan massa pun dilakukan dan anarkis pun terjadi, rakyat menderita dan kandidat pun suka cita.

Contohlah Amerika Serikat walaupun mayoritas bangsa di dunia tidak menyukai atas tindakan dan perilaku pemerintah AS, tapi ambillah apa yang baik dari mereka. Belum lama ini telah dilangsungkan pemilihan Presiden AS, dimana selama masa kampanye dilakukan debat dan juga disertai black campaign (menjelekkan/menjatuhkan kandidat lain), tapi pada akhirnya setelah keputusan pemenang didapat maka yang kalah dalam hal ini senator John McCain dengan sportif mengucapkan selamat kepada senator Barrack Obama.

Inilah yang rakyat harapkan, akhir dari pemilu yang happy ending, bukannya meninggalkan kerusuhan, kekacauan dan kekusutan lainnya¬†yang akan semakin menyengsarakan rakyat. Semua kecurangan dalam proses pemilu bisa diselesaikan kemudian, yang penting berjiwa besar untuk menerima kekalahan seperti ikrar yang terucap “Siap Menang Siap Kalah” dan bukannya “Siap Menang Siap-siap Kalau Kalah”

We Hope…

Advertisements

Partai Investor

MPR-DPR RI tampak atas

MPR-DPR RI

Reformasi telah terjadi dan demokrasi pun mulai dijalankan setahap demi setahap. Setiap orang bebas membuat partai dengan bermacam ragam idiologi dan kepentingan. Banyaknya partai membuat suara rakyat pun terfragmentasi sehingga tidak ada partai yang benar-benar memenangkan pemilu secara mayoritas. Untuk berkuasapun diperlukan koalisi dengan beberapa partai yang dengan pamrih meminta bagian dalam pemerintahan. Amanah rakyat pun telah tergadaikan. Partai yang bergabung dengan koalisi pemerintah meminta keuntungan atau kue pemerintahan. Partai ini adalah partai investor.
Continue reading

Archives