//
archives

Artikel

This category contains 14 posts

Freeware – Free Software

http://sanduak.wordpress.com

Site ini diluncurkan untuk memenuhi permintaan akan software gratis (Freeware) yang sangat dibutuhkan oleh melek IT khususnya di Indonesia. Freeware yang di publish adalah freeware yang penulis anggap baik dan telah melalui proses pengujian oleh penulis sendiri.

Selamat mendownload!

Pemakzulan (Impeachment) terhadap Eksekutif dan Legislatif

Pansus Bank Century

Lobi gencar yang dilakukan oleh pemerintah agar kesimpulan akhir pansus tidak menyebutkan nama para pejabat yang dianggap ikut bertanggungjawab terhadap pengucuran dana 6.7 triliun kepada Bank Century telah menampakkan hasil. Hal ini dapat dilihat dari dimundurkannya pembacaan sikap fraksi yang semestinya dilakukan pada hari senin malam ditunda hingga selasa siang (atau malam).

Lobi pemerintah telah berhasil membelokkan sikap sejumlah partai yang ngotot untuk menyebutkan skandal Bank Century sebagai kejahatan dengan pelaku menjadi kejahatan tanpa pelaku (anonim).

Secara akal sehat (bagi yang mempunyai akal sehat), tidak mungkin sebuah skandal menghasilkan akibat tanpa pelaku, dimana-mana dan dalam tindak kejahatan pastilah ada pelaku.

Saat ini rakyat Indonesia telah diarahkan untuk mengakui adanya suatu tindak kejahatan tanpa pelaku (anonim). Mereka lupa bahwa rakyat tidak bisa ditipu. Anak kecil saja tahu bahwa kalau ada yang kemalingan, pasti ada yang mencuri.

Rakyat mesti menentukan sikap, rakyat mempunyai “kuasa demokrasi“.

Bendera Perang Mulai Dikibarkan

SBY

Editorial Media Indonesia hari ini mengulas tentang pertarungan antara SBY dan Demokrat terhadap anggota koalisi yang tidak mau kompromi. Berbagai cara dilakukan untuk menekan mulai dari ancaman reshuffle kabinet hingga pembongkaran borok anggota koalisi dimasa lampau. Beberapa borok anggota koalisi yang tersimpan rapi dan terendapkan mulai dibangkitkan untuk diproses.

Terlepas dari borok-borok tersebut terbukti atau tidak, SBY secara tersirat telah membuka boroknya sendiri, karena tindakannya telah dengan sengaja menyimpan atau mengendapkan borok-borok  anggota koalisi sebagai salah satu deal politik, atau dengan kata lain, SBY telah melakukan tebang pilih. SBY telah melanggar azas clean and good governance yang selalu dibanggakannya.

Bendera Perang Mulai Dikibarkan. (dikutip dari: Editorial Media Indonesia)

ANGKET skandal Bank Century yang digeluti Pansus DPR mulai memasuki tahap final dan menentukan. Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengibarkan bendera clean and good governance mempertaruhkan reputasinya apakah masih bisa dipercaya atau tidak dengan platformnya itu. Publik telah disuguhkan proses pansus sedemikian rupa sehingga terbentuk pemikiran bahwa dalam kasus Century pemerintah telah melanggar asas clean and good governance itu.

Pemerintahan SBY tidak ingin pemikiran itu menjadi harga mati di mata publik. Karena itu, kesimpulan akhir fraksi-fraksi harus diubah agar vonis publik terhindarkan.

Di sinilah babak pertarungan yang tidak kalah seru. Pertarungan bertambah seru karena SBY dan Partai Demokrat bertarung dengan anggota koalisi yang tidak ingin diajak kompromi.

Karena itu, SBY harus menggunakan seluruh senjata penekan yang dipunyai. Mulai ancaman reshuffle kabinet sampai pada pembongkaran borok anggota koalisi di masa lalu. Efektif atau tidak senjata itu mengancam kesetiaan koalisi masih harus ditunggu.

Namun, beberapa borok koalisi yang selama ini dibungkus rapi mulai dibongkar. Kasus tunggakan pajak beberapa perusahaan milik Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie yang selama ini angker dibuka mulai diproses unsur pidananya. Yang mengibarkan bendera pengusutan adalah SBY sendiri.

Tidak cuma itu. Borok orang-orang Golkar yang lain yang selama ini tidak tersentuh pun dicongkel. Setya Novanto, yang selalu lolos dari sejumlah dugaan penyelewengan selama ini, dibuka.

Salah satu kasus Novanto, Ketua Fraksi Golkar DPR, yang diadukan ke polisi adalah penyelewengan pajak impor beras pada 2003. Sejalan dengan kasus Novanto, nama Idrus Marham, Sekjen Golkar yang Ketua Pansus Century, pun disebut-sebut.

Banyak pula tokoh dari partai lain yang secara ‘kebetulan’ sekarang dihadapkan dengan aparat hukum karena kasus lamanya dibuka.

Tantangan terbesar bagi SBY adalah menghilangkan kesan bahwa penyeretan nama-nama politikus ke ranah hukum bukan ancaman untuk membengkokkan koalisi dari kebenaran yang diyakini, melainkan murni langkah penegakan hukum.

Kalau begitu ceritanya, yang tidak kalah penting adalah menjelaskan kepada publik bagaimana kasus pajak Novanto dan kawan-kawan yang selama ini tidak disentuh tiba-tiba dibuka? Kekuatan apakah yang selama ini mampu menguburkan kasus-kasus itu?

Tentu ini adalah perang yang ramai. Tiap pihak telah mengibarkan bendera perang. Tidak peduli siapa yang menang, asal clean and good governance ditegakkan. Karena itulah benefit yang harus dinikmati publik.

Sumber : Media Indonesia

Bau Pesing Politik Minyak di Ambalat

Foto udara kapal perang (KRI) yang berpatroli menuju Blok Ambalat di perairan tak jauh dari Kabupaten Nunukan, Kaltim, Rabu (1/04/09). (ANTARA/Eric Ireng)

Foto udara kapal perang (KRI) yang berpatroli menuju Blok Ambalat di perairan tak jauh dari Kabupaten Nunukan, Kaltim, Rabu (1/04/09). (ANTARA/Eric Ireng)

Jakarta (ANTARA News) – 27 Mei 2005, Daniel Estulin, seorang penulis keturunan Rusia yang menginvestigasi keberadaan Paguyuban Bilderberg menulis, bahwa konfrontasi politik Indonesia dan Malaysia di kawasan kaya minyak di Laut Sulawesi menjadi topik diskusi utama anggota Bilderberg dalam satu pertemuannya pada 2005.

Bilderberg adalah kumpulan orang-orang paling berkuasa di dunia yang misterius namun ditengarai sangat menentukan arah kecenderungan internasional. Mereka diantaranya para birokrat, industrialis dan bankir.

Diantara anggota Bilderberg yang menghadiri Konferensi 2005 –konon diadakan tiap tahun– adalah pimpinan British Petroleum (BP) Peter D. Sutherland dan bos Royal Dutch Shell Jeroen van der Veer.

Mengutip Estulin, semua orang di Paguyuban paham bahwa perang akan memberi landasan bagi hadirnya pasukan pemelihara perdamaian PBB sehingga eksploitasi energi di Ambalat bisa mereka kontrol.

Estulin mungkin provokatif, namun fakta menunjukkan ancaman pecahnya konfrontasi terbuka antara Indonesia dan Malaysia di Ambalat memang kian besar.

Suhu konflik memanas hingga mencapai titik ekstrem pada 2005 dan paruh pertama tahun ini. Itu semua beriringan dengan kesepakatan eksplorasi minyak dengan para raksasa tambang minyak di perairan yang diklaim memiliki cadangan minyak 2 miliar barel dan 3-5 triliun kubik gas alam cair (LNG) itu.

Continue reading

Bangkitnya Orde Baru.

capres-cawapres pemilu 2009

capres-cawapres pemilu 2009

Baru-baru ini terdengar kabar bahwa hampir seluruh kepala daerah di provinsi Sumatera Barat secara berjama’ah ikut serta sebagai tim kampanye salah satu capres-cawapres. Hal ini cukup mengejutkan karena cara-cara orde baru sudah mulai muncul kembali di zaman reformasi.

Kepala daerah tidak sepatutnya menjadi tim sukses capres-cawapres, sebab bila seorang kepala daerah telah menjadi tim  sukses salah satu kandidat, berarti secara tersirat telah memaksa rakyat didaerahnya untuk memilih capres-cawapres yang didukungnya.

Apapun alasannya, baik itu kesadaran sendiri atau karena berasal dari partai politik yang mendukung capres-cawapres tetap saja hal ini tidak patut dilakukan, karena akan membunuh demokrasi yang telah susah payah dibangun.

Sangat penulis sayangkan adalah mengapa hal ini terjadi di daerah Minangkabau (provinsi Sumatera Barat) yang merupakan salah satu masyarakat demokrasi tertua di Indonesia.

Jangan Jadikan Ambalat Kambing Hitam.

Blok Ambalat

Blok Ambalat

Akhir-akhir ini media masa di Indonesia saling berlomba memberitakan tentang pencerobohan yang dilakukan oleh negeri jiran di Ambalat. Ada tanda tanya besar terlintas yaitu mengapa negara Malaysia begitu berani menceroboh perairan Indonesia di blok Ambalat? mengapa kasus ini menghangat di saat-saat pemilu? mengapa pencerobohan ini terjadi di saat minimnya alutsista dan anggaran belanja TNI? dan mengapa pemberitaan di media Indonesia begitu gencar dan di Malaysia adem ayem saja?

Sebegitu beranikah Malaysia?

Penulis berpendapat bahwa kemungkinan berperang dengan Malaysia maksimum hanya 0.1% saja, artinya tidak mungkin terjadi perang dengan Malaysia. Secara kekuatan hukum batas negara terutama di Ambalat, Indonesia lebih kuat dan Malaysia pun tidak akan berani membawanya kasus ini seperti kasus Sipadan dan Ligitan, dan Malaysia mengakui hal tersebut. Ini dibuktikan dengan tidak adanya protes dari Malaysia atas upaya Indonesia mengeksplorasi migas blok Ambalat, dan hingga saat ini proses eksplorasi masih terus berlangsung.

Selain hal tersebut hubungan historis dan budaya antara Indonesia dan Malaysia sangat erat sekali hampir tidak dapat dipisahkan, dan dapat dikatakan Malaysia itu adalah saudara muda Indonesia. Di Malaysia ada tiga suku besar Indonesia yang berada di Malaysia yaitu suku Jawa (sebagian besar di Johor), suku Bugis (sebagian besar di Selangor) dan Minang (sebagaian besar di Negeri Sembilan), dan suku-suku lain yang menyebar di semenanjung Malaysia dan Borneo. Akibatnya di Malaysia ada Angklung, Reog Ponorogo, Batik, Rendang dan lain sebagainya. Sehingga tidak salah pula kalau Malaysia mengklaim negaranya Truly Asia.

Ada tidak hubungannya dengan pemilu di Indonesia?

Bisa jadi kasus Ambalat sengaja dibangkitkan sebagai salah satu strategi dari para capres/wapres untuk meraup suara dari rakyat Indonesia yang terbakar nasionalisme-nya, karena jika sudah menyangkut kedaulatan NKRI, rakyat Indonesia sangat militan. Capres/wapres akan saling klaim siapa yang lebih nasionalis dan peduli terhadap kedaulatan NKRI.

Apakah TNI ada bermain mata?

Anggaran belanja TNI sangat kecil sekali, dan dalam APBN 2009 saja anggaran untuk TNI lebih kecil dari APBN 2008. Anggaran yang kecil ini mengakibatkan TNI kesulitan dalam merawat, memelihara dan memperbarui alutsista. Hal ini sangat fatal sekali sehingga menyebabkan kekuatan TNI semakin melemah.

Masalah tersebut bisa saja memaksa TNI untuk mencari akal bagaimana supaya anggaran belanja bisa ditambah, dan salah satu peluang yang ada pada saat ini adalah dengan mengangkat kasus Ambalat.

Penulis beralasan bahwa selama ini hubungan antara TNI dan ATM (Angkatan Tentera Malaysia) tidak ada masalah, malahan mereka saling bekerja sama dalam menjaga perbatasan. Malahan baru-baru ini ada perlombaan menembak antar perwira tinggi Malaysia dan Indonesia di Malaysia.

Pemberitaan di Indonesia panas, di Malaysia adem ayem.

Kontras dengan pemberitaan di Indonesia, di Malaysia malah boleh dikatakan tidak ada pemberitaan tentang Ambalat. Penulis pernah membaca pemberitaan tentang Ambalat di koran Malaysia yaitu di Utusan Malaysia yang merupakan kutipan dari pemberitan salah satu media di Indonesia.

Akibatnya mayoritas rakyat Malaysia tidak tahu mengenai kasus Ambalat, dan malahan tidak ambil peduli.

Pemerintah Malaysia memang tidak ada mengungkit kasus Ambalat ini di media masa, malahan disarankan untuk tidak di ungkit. Pemberitaan terakhir di media Malaysia yang memuat pernyataan wakil perdana menteri Malaysia bahwa hubungan antara Malaysia dan Indonesia baik-baik saja dan tidak ada yang mesti dipermasalahkan, dan masalah Ambalat itu hanya soal tumpang tindih perbatasan saja.

Kesimpulan

  1. Pemerintah Malaysia secara tersirat sudah mengakui Ambalat masuk ke dalam wilayah Indonesia, dan sebaiknya pemerintah Indonesia dan pihak media tidak perlu terlalu memperkeruh suasana.
  2. Sebaiknya masalah Ambalat cukup dibahas oleh pihak yang terkait saja, dan tidak perlu diungkit di media masa yang akan mengakibatkan meningkatnya kebencian rakyat Indonesia terhadap Malaysia.
  3. Pemerintah mau tidak mau harus meningkatkan anggaran belanja TNI, karena mengejar pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup bila tidak diimbangi dengan kekuatan militer yang menjaga kedaulatan NKRI.
  4. Perlu adanya sedikit kontrol dari pemerintah terhadap media masa untuk pemberitaan yang sensitif.

Konflik dengan Negara Jiran

Kenapa hubungan dengan Malaysia sering naik turun.

Suatu ketika penulis pernah berdiskusi dengan teman satu rumah mengenai hubungan Indonesia dan Malaysia yang sering naik turun. Kami membahas kenapa Indonesia dan Malaysia kadang baik-baikan seperti kakak-adik kadang ribut seperti anjing dan kucing.

Dari diskusi tersebut akhirnya kami menyimpulkan bahwa konflik yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia adalah merupakan hal yang biasa dan lumrah sebagai negara yang bertetangga. Sama seperti hubungan kita dengan tetangga disekitar rumah. Kadang terjadi konflik dengan tetangga di sebelah rumah, contohnya karena beda pendapat, bising, membuang sampah di selokan atau yang lebih parahnya tetangga sebelah tidak sengaja/sengaja mengambil beberapa sentimeter tanah kita.

Karena kita bertetangga sebelah rumah atau satu komplek, tentunya peluang untuk konflik dengan tetangga lebih besar dari pada konflik dengan tetangga di ujung jalan atau di komplek sebelah apalagi tetangga di kota lain.

Begitu pula halnya dengan negara jiran Malaysia yang benar-benar bertetangga dengan Indonesia. Peluang konflik dengan negara Malaysia lebih besar daripada konflik yang akan terjadi dengan negara Brunei, China, Rusia atau Negeria.

Apa strategi untuk meredam konflik.

Mengaca dari konflik yang terjadi dengan tetangga di komplek. Bila keluarga kita adalah keluarga besar punya banyak anak apalagi laki-laki semua dan kaya, tentu saja tetangga sebelah akan segan dengan kita. Mereka tentu tidak ingin dan berusaha tidak terjadi konflik dengan kita.

Bagaiamana dengan Indonesia saat ini? Indonesia saat ini seperti sebuah keluarga besar yang punya anak laki-laki tapi pondan/bencong semua dan sering diejek sama tetangga sebelah. Pemerintah sekarang terlalu mengejar pembangunan ekonomi, tapi militer diabaikan. Seharusnya kemajuan ekonomi dan militer harus sejalan. Percuma saja kaya tapi pondan, bisa habis kita.

Biaya untuk membangun kekuatan militer memang sangat besar, idealnya samalah dengan anggaran untuk pendidikan. Memang untuk saat ini hal tersebut tidak mungkin dipenuhi. Tapi, saat ini Indonesia mempunyai beberapa BUMNIS seperti PTDI, PAL dan PINDAD yang telah mampu memproduksi sendiri beberapa alutsista. Manfaatkan itu semua dan dukung secara penuh untuk memajukan teknologi militer.

“Kekuatan militer bukan hanya untuk berperang, tapi juga untuk membuat kawan/lawan segan”.

Design kapal perusak kawal rudal 105m buatan PAL

Design kapal perusak kawal rudal 105m buatan PAL

design kapal selam mini 22m

design kapal selam mini 22m

proses produksi panser di PT. PINDAD

proses produksi panser di PT. PINDAD

Kenapa perbedaan idiologi diributkan?

Beberapa hari ini berita yang sering muncul di media cetak maupun televisi adalah mengenai koalisi partai politik. Berbagai pendapat dilontarkan oleh para pengamat politik terhadap arah koalisi partai politik yang cenderung pelangi (berbeda idiologi). Sebagai contoh adalah koalisi yang kemungkinan akan dibangun oleh partai Demokrat, PKS, PKB, PAN serta PBB dan PDS jika lolos PT. Koalisi ini terdiri dari partai yang beridiologi nasionalis (Demokrat), Islam (PKS, PKB, PAN an PBB) serta Kristen (PDS).

Para pengamat politik berpendapat bahwa koalisi tersebut tidak bisa bertahan lama karena disebabkan perbedaan idiologi yang sangat kontras, terutama sekali antara Demokrat (nasionalis), PKS (islam) dan PDS (kristen), dan koalisi itu terjadi karena hanya untuk mengejar kepentingan sesaat saja. Dan ada juga pengamat politik yang lebih keras lagi berkomentar bahwa bila terjadi koalisi pun tidak akan mungkin SBY memilih cawapres dari PKS karena akan mengakibatkan SBY sulit membuat kebijakan yang berhubungan dengan barat.

Continue reading

Mayoritas Anggota DPR Makan Uang Haram

Editorial Media Indonesia hari ini membedah tentang perilaku anggota DPR dengan judul “Masuk Telinga Kanan Keluar Telinga Kiri“. Apa yang diuraikan dalam editorial tersebut benar adanya dan juga merupakan keluhan rakyat atas perilaku anggota DPR dan seharusnya yang menjadi anggota DPR adalah tim Editorial Media Indonesia.

Perilaku mayoritas anggota DPR yang sering membolos, tidak mendengarkan dan menyalurkan aspirasi rakyat, dan ditambah lagi tidak tahu undang-undang dan konstitusi adalah sebagai bentuk pengkhianatan terhadap rakyat. Mereka hanya bisa makan “gaji buta” dan apa yang mereka terima akan menjadi haram.

Penulis setuju dengan pernyatan di Editorial Media Indonesia bahwa “Penyebab utama aspirasi rakyat tidak diakomodasi dalam kebijakan publik yakni kondisi DPR hanyalah perpanjangan tangan partai. Anggota DPR merupakan boneka elite partai sehingga terputuslah tali mandat sebagai wakil rakyat dengan konstituen yang diwakilinya. Sepanjang pemilu tidak menggunakan sistem distrik, selama itu pula aspirasi rakyat dibungkamkan dan anggota DPR hanya menghamba kepada elite partai”.

Ini patut dipikirkan dan dipertimbangkan.

tidur

tidur

bolos

bolos

Sumber : Media Indonesia

Yang tak Lepas Dollar adalah Pengkhianat Bangsa…!

Krisis ekonomi telah mewabah ke seluruh dunia, dan Indonesia pun tidak luput dari krisis tersebut. Saat sekarang Amerika Serikat sangat membutuhkan banyak dana untuk memperbaiki krisis di negaranya, sehingga investasinya diluar negeri pun ditarik. Sehingga saat sekarang cadangan Dollar semakin berkurang karena ditarik balik ke Amerika sehingga secara tak langsung akan membuat nilai tukar Dollar Amerika semakin menguat terhadap mata uang negara lain termasuk juga terhadap mata uang Rupiah yang mencapai 12.000 rupiah/Dollar.

Selain Amerika yang menarik investasinya, ternyata banyak juga rakyat Indonesia yang mengambil kesempatan di kala negara dalam kesempitan dengan ikut-ikutan membeli Dollar dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan. Pemerintah pun kalang kabut memenuhi permintaan Dollar sehingga cadangan devisa pun tergerus hingga US$ 10 Milyar hanya dalam waktu 3 bulan. Bila hal ini dibiarkan terus menerus maka cadangan devisa akan habis diakhir tahun 2009 atau malahan lebih cepat lagi, dan negara pun mau tidak mau mengemis pinjaman lagi kepada IMF.

Negara Indonesia tidak akan pernah terlepas dari krisis bila tidak didukung oleh semua rakyat. Pemerintah telah mengimbau seluruh rakyat agar melepas Dollar dan tidak menyimpannya, tetapi imbauan tersebut tidak digubris. Sehingga pemerintah tidak saja bertarung sendiri menghadapi krisis ekonomi tapi juga dipukul dari belakang oleh rakyatnya.

Mereka yang menyimpan Dollar untuk mencari keuntungan dikala pemerintah dalam kesempitan adalah pengkhianat bangsa. Berkhianat lebih kejam dari membunuh. Alangkah bangganya, bila pemerintah bersama-sama rakyat kalah dalam bertarung menghadapi krisis ekonomi, tapi alangkah sakitnya bila pemerintah kalah karena ditikam rakyat sendiri.

Mana semangat Nasionalisme mu wahai rakyat…!

Apakah semangatmu telah kalah oleh perutmu….?

Archives