//
you're reading...
Artikel

Jangan Jadikan Ambalat Kambing Hitam.

Blok Ambalat

Blok Ambalat

Akhir-akhir ini media masa di Indonesia saling berlomba memberitakan tentang pencerobohan yang dilakukan oleh negeri jiran di Ambalat. Ada tanda tanya besar terlintas yaitu mengapa negara Malaysia begitu berani menceroboh perairan Indonesia di blok Ambalat? mengapa kasus ini menghangat di saat-saat pemilu? mengapa pencerobohan ini terjadi di saat minimnya alutsista dan anggaran belanja TNI? dan mengapa pemberitaan di media Indonesia begitu gencar dan di Malaysia adem ayem saja?

Sebegitu beranikah Malaysia?

Penulis berpendapat bahwa kemungkinan berperang dengan Malaysia maksimum hanya 0.1% saja, artinya tidak mungkin terjadi perang dengan Malaysia. Secara kekuatan hukum batas negara terutama di Ambalat, Indonesia lebih kuat dan Malaysia pun tidak akan berani membawanya kasus ini seperti kasus Sipadan dan Ligitan, dan Malaysia mengakui hal tersebut. Ini dibuktikan dengan tidak adanya protes dari Malaysia atas upaya Indonesia mengeksplorasi migas blok Ambalat, dan hingga saat ini proses eksplorasi masih terus berlangsung.

Selain hal tersebut hubungan historis dan budaya antara Indonesia dan Malaysia sangat erat sekali hampir tidak dapat dipisahkan, dan dapat dikatakan Malaysia itu adalah saudara muda Indonesia. Di Malaysia ada tiga suku besar Indonesia yang berada di Malaysia yaitu suku Jawa (sebagian besar di Johor), suku Bugis (sebagian besar di Selangor) dan Minang (sebagaian besar di Negeri Sembilan), dan suku-suku lain yang menyebar di semenanjung Malaysia dan Borneo. Akibatnya di Malaysia ada Angklung, Reog Ponorogo, Batik, Rendang dan lain sebagainya. Sehingga tidak salah pula kalau Malaysia mengklaim negaranya Truly Asia.

Ada tidak hubungannya dengan pemilu di Indonesia?

Bisa jadi kasus Ambalat sengaja dibangkitkan sebagai salah satu strategi dari para capres/wapres untuk meraup suara dari rakyat Indonesia yang terbakar nasionalisme-nya, karena jika sudah menyangkut kedaulatan NKRI, rakyat Indonesia sangat militan. Capres/wapres akan saling klaim siapa yang lebih nasionalis dan peduli terhadap kedaulatan NKRI.

Apakah TNI ada bermain mata?

Anggaran belanja TNI sangat kecil sekali, dan dalam APBN 2009 saja anggaran untuk TNI lebih kecil dari APBN 2008. Anggaran yang kecil ini mengakibatkan TNI kesulitan dalam merawat, memelihara dan memperbarui alutsista. Hal ini sangat fatal sekali sehingga menyebabkan kekuatan TNI semakin melemah.

Masalah tersebut bisa saja memaksa TNI untuk mencari akal bagaimana supaya anggaran belanja bisa ditambah, dan salah satu peluang yang ada pada saat ini adalah dengan mengangkat kasus Ambalat.

Penulis beralasan bahwa selama ini hubungan antara TNI dan ATM (Angkatan Tentera Malaysia) tidak ada masalah, malahan mereka saling bekerja sama dalam menjaga perbatasan. Malahan baru-baru ini ada perlombaan menembak antar perwira tinggi Malaysia dan Indonesia di Malaysia.

Pemberitaan di Indonesia panas, di Malaysia adem ayem.

Kontras dengan pemberitaan di Indonesia, di Malaysia malah boleh dikatakan tidak ada pemberitaan tentang Ambalat. Penulis pernah membaca pemberitaan tentang Ambalat di koran Malaysia yaitu di Utusan Malaysia yang merupakan kutipan dari pemberitan salah satu media di Indonesia.

Akibatnya mayoritas rakyat Malaysia tidak tahu mengenai kasus Ambalat, dan malahan tidak ambil peduli.

Pemerintah Malaysia memang tidak ada mengungkit kasus Ambalat ini di media masa, malahan disarankan untuk tidak di ungkit. Pemberitaan terakhir di media Malaysia yang memuat pernyataan wakil perdana menteri Malaysia bahwa hubungan antara Malaysia dan Indonesia baik-baik saja dan tidak ada yang mesti dipermasalahkan, dan masalah Ambalat itu hanya soal tumpang tindih perbatasan saja.

Kesimpulan

  1. Pemerintah Malaysia secara tersirat sudah mengakui Ambalat masuk ke dalam wilayah Indonesia, dan sebaiknya pemerintah Indonesia dan pihak media tidak perlu terlalu memperkeruh suasana.
  2. Sebaiknya masalah Ambalat cukup dibahas oleh pihak yang terkait saja, dan tidak perlu diungkit di media masa yang akan mengakibatkan meningkatnya kebencian rakyat Indonesia terhadap Malaysia.
  3. Pemerintah mau tidak mau harus meningkatkan anggaran belanja TNI, karena mengejar pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup bila tidak diimbangi dengan kekuatan militer yang menjaga kedaulatan NKRI.
  4. Perlu adanya sedikit kontrol dari pemerintah terhadap media masa untuk pemberitaan yang sensitif.

Discussion

10 thoughts on “Jangan Jadikan Ambalat Kambing Hitam.

  1. nah begitu dunk,baru benar,kasih info yang objektif,klw belum tahu info ampe ke dalam2nya jangan main hujat aja.ntar dikritik orang yg lebih paham kan malu,liat permasalahan bukan hanya permukaan saja,cari info dulu selengkapnya.bagus nih,gw suka

    Posted by diana | June 7, 2009, 1:20 am
  2. apa mahu gempar gempur cerita ambalat ….itu duduk bincang masalah bukan berperang …..ada masalah atau tuntutan bertindih bincang dan cari jalan selesaikan .saya selalu baca kompos tapi rakyat INDO selalu mahu perang dng malaysia ,,,,, berita kata malaysia tidak mengapi-api rakyat supaya berperang dng indo pun .

    Posted by malaysiapower | June 9, 2009, 1:28 pm
  3. kalau perang adalah salah satu jalan maka why not, kita punya sejarah grilya yang tak terkalahkan

    Posted by budi | June 10, 2009, 2:20 pm
    • Salam,

      Bapak Budi, sejarah gerila yang tak terkalah? Bukankah Sukarno kalah bila tidak menang perang ‘Ganyang Malaysia’? Lihat siapa masih utuh? Kalau tidak menang siapa yang kalah? Sendiri tau jawabnya.

      Rakyat Malaysia tak megah pun bila konfrantasi Indonesia dapat dipatahkan. Kenapa? Bagi kami rakyat Malaysia beranggapan apa nak dimegahkan bila abang lawan adik? Malah rakyat Melayu malu sendiri walau ‘menang’ konfrantasi.

      Hampir 7000 mati dalam konfrantasi. (Baca report wikipedia) Kali ini kalau terjadi mungkin 7 juta orang pula mati. Mau begitu?

      Sebenarnya sejarah perit ini jangan diulang dan diapikan. Saudara tua dengan saudara muda jangan diadu dombakan. Ibu bapa moyang kita yang akan menangis.

      Salam aman.

      Posted by mohd nazri yahya | June 22, 2009, 10:43 pm
  4. jika gerila adalah sejarah hebat kamu,
    maka diplomasi adalah sejarah hebat kami.
    itu gunanya otak..
    biar pemimpin kita yang bicara hal ini.
    ngak perlu bising. kita saling perlukan
    Media kami ngan mahu laporkan sesuatu yang ngak penting, jika ia milik kami, ia tetap milik kami.
    rasanya orang2 kami juga ngak mahu berperang kok,
    sini sudah aman & sejahtera,
    TKI juga ramai..udah-udahla…

    Posted by Madal | June 11, 2009, 1:49 pm
  5. salam .
    Malaysia
    ambalat hanya cerita kecil ….
    duduk bincang …..masalah akan selesai..
    Indonesia
    ambalat cerita besar….
    mahu perang …masalah baru selesai..

    sendiri mahu fikir lah…kawan

    Posted by amsa | June 14, 2009, 8:25 pm
  6. malaysia pancen mayak…
    nggapleki…
    tonggo dewe ngajak kisruh…
    hajar bleh…

    Posted by ramadhan | July 23, 2009, 11:45 am
  7. sorry… gak jadi ngisruh…
    damai aja bleh…
    sodara masak rame…
    piss…🙂

    Posted by ramadhan | July 23, 2009, 11:53 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives

%d bloggers like this: